Investing.com- Harga minyak naik tajam pada perdagangan awal Asia hari Jumat, rebound dari kerugian terbaru seiring pasar menantikan lebih banyak tanda kemajuan menuju kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Komentar optimistis dari pejabat AS mengenai pembicaraan dengan Iran membuat harga minyak menanggung kerugian besar sepanjang pekan ini. Namun minyak mentah tetap bertahan kuat, karena Selat Hormuz masih tertutup dan AS serta Iran masih berselisih atas isu-isu utama, terutama aktivitas nuklir Teheran.
Futures minyak mentah West Texas Intermediate untuk Juli melonjak 1,6% menjadi $94,34 per barel pada pukul 06:06 WIB. Harga tersebut turun sekitar 6,6% sepanjang pekan ini.
AS dan Iran mengambil sikap yang berlawanan mengenai cadangan uranium Iran dan rencana pengendalian Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis menegaskan kembali perlunya menyita cadangan uranium Iran, menyatakan bahwa negara tersebut tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan penerapan sistem tol oleh Teheran di Selat Hormuz akan membuat solusi diplomatik menjadi tidak layak. Namun Rubio juga mencatat adanya kemajuan dalam pembicaraan tersebut.
Awal pekan ini, Trump mengatakan bahwa ia telah menunda rencana serangan militer terhadap Iran, dan mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Komentar Trump menjadi beban besar bagi harga minyak pekan ini, karena pasar berharap pada berakhirnya perang Iran.
Namun aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas, sehingga pasokan global masih tertekan. Iran juga terlihat sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk memungut tol bagi kapal yang melintas di Hormuz.
Trump juga mengatakan bahwa ia siap memerintahkan serangan terhadap Iran jika negosiasi yang sedang berlangsung tidak menghasilkan kemajuan apapun.





