Harga Minyak Naik di Tengah Ketidakpastian Kesepakatan Iran

Investing.com – Harga minyak berbalik naik pada Jumat setelah memulihkan kerugian awal, namun tetap menuju penurunan mingguan yang tajam, seiring investor memantau perkembangan terbaru terkait perjanjian damai AS-Iran, yang telah meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak mentah global.

Wakil Presiden AS J.D. Vance dilaporkan menangguhkan rencana pembicaraan di Jenewa terkait proses perdamaian AS-Iran, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan perjanjian sementara yang baru-baru ini diumumkan.

Swiss menyatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik Timur Tengah tidak akan berlangsung pada Jumat ini.

Selain itu, pasukan Israel melancarkan serangan udara baru pada awal Kamis, yang menimbulkan sejumlah keraguan terhadap kesepakatan damai tersebut.

Sentimen pasar telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani perjanjian sementara yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pengiriman minyak global.

Perjanjian tersebut telah memunculkan ekspektasi bahwa jutaan barel minyak mentah yang tertahan dapat secara bertahap kembali ke pasar internasional dalam beberapa pekan dan bulan mendatang.

AS menyatakan telah mencabut blokadenya terhadap Iran pada Kamis seiring perjanjian sementara mulai berlaku. Kapal-kapal yang membawa minyak tertahan mulai bergerak keluar dari jalur perairan tersebut pada Kamis, menurut laporan yang ada.

Prospek dimulainya kembali ekspor telah menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melampaui $120 per barel pada puncak krisis.

Para analis industri juga memperingatkan bahwa pemulihan penuh aliran minyak Teluk tidak akan terjadi secara langsung.

Sementara itu, faktor makroekonomi yang lebih luas turut memberikan tekanan pada pasar minyak. Sikap hawkish Bank Sentral AS (Federal Reserve), termasuk indikasi bahwa suku bunga dapat tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama, telah memperkuat nilai dolar.

 

Artikel ini diterbitkan oleh Investing.com

Artikel Terkait