Investing.com – Harga minyak bergerak mendekati level terendah dua bulan dalam perdagangan Asia pada hari Rabu saat para trader bersikap hati-hati menjelang pertemuan antara pemimpin Rusia dan AS akhir pekan ini.
Fokus juga tertuju pada data persediaan minyak AS setelah data industri menunjukkan kenaikan tak terduga dalam stok minyak di negara konsumen bahan bakar terbesar di dunia.
Harga minyak tidak terlalu terdorong oleh data inflasi konsumen AS yang sedikit lebih lemah dari perkiraan, yang membuat pasar sebagian besar mempertahankan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada bulan September.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk Oktober stabil di $66,13 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,1% menjadi $62,41 per barel pada pukul 21:39 ET (01:39 GMT).
Stok Minyak AS Naik Tak Terduga
Data dari American Petroleum Institute pada hari Selasa menunjukkan bahwa stok minyak AS meningkat sebesar 1,5 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 8 Agustus, bertolak belakang dengan ekspektasi penurunan sebesar 0,8 juta barel.
Angka ini biasanya menjadi indikasi bagi data resmi persediaan, dan memicu kekhawatiran bahwa permintaan bahan bakar AS mulai melemah seiring berakhirnya musim panas yang padat perjalanan.
Data persediaan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) akan dirilis pada hari Rabu, dengan perkiraan penurunan sebesar 300.000 barel.
EIA dan OPEC dalam laporan bulanan terpisah menyatakan bahwa mereka memperkirakan produksi akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, yang turut menekan harga minyak minggu ini. OPEC juga sedikit menaikkan perkiraan permintaan minyak untuk tahun 2026.
Kekhawatiran atas peningkatan produksi dan lemahnya permintaan terus membebani harga minyak sepanjang tahun ini, sementara ancaman sanksi tambahan dari AS terhadap Rusia belum mampu menahan penurunan harga minyak mentah.
Fokus pada Pertemuan Trump-Putin
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di Alaska pada hari Jumat, untuk membahas penghentian perang di Ukraina.
Pertemuan ini berlangsung di tengah ancaman Washington yang akan memberlakukan sanksi lebih ketat terhadap industri minyak Rusia, termasuk rencana tarif terhadap pembeli utama minyak Rusia — India dan China. Trump sebelumnya telah mengusulkan tarif 50% untuk India.
Gedung Putih tampak meredam harapan akan akhir cepat dari konflik Rusia-Ukraina pada hari Selasa, yang berpotensi menjadi pertanda bahwa negosiasi gencatan senjata akan berlangsung lama dan kemungkinan sanksi tambahan terhadap minyak Rusia dalam beberapa minggu ke depan.





