Harga Minyak Turun Tiga Hari Berturut-Turut Seiring Harapan Kesepakatan Hormuz

Investing.com – Harga minyak merosot pada Rabu, memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut seiring meningkatnya optimisme bahwa kesepakatan sementara antara AS dan Iran dapat tercapai guna memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Per pukul 07:54 WIB, Brent Oil Futures yang jatuh tempo pada Oktober turun 0,3%, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk September tergelincir 0,5%.

Kedua tolok ukur tersebut telah anjlok lebih dari 5% pada Selasa, melanjutkan penurunan tajam dari Senin.

Qatar menyatakan pada Selasa bahwa sebuah proposal sementara telah disusun saat para mediator berupaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran.

Presiden AS Donald Trump membahas upaya de-eskalasi ketegangan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani dalam sebuah panggilan telepon pada Selasa, menurut pemerintah Qatar.

Proposal tersebut bertujuan untuk memulihkan navigasi melalui Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global.

Dorongan diplomatik terbaru ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah dimulai dan menyebut bahwa Teheran memiliki “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan.

Namun, Iran secara terbuka membantah bahwa negosiasi formal dengan Washington sedang berlangsung, yang menyoroti ketidakpastian yang menyelimuti proses tersebut.

Meski sinyal diplomatik membaik, risiko tetap tinggi. Sebuah kapal dagang lainnya diserang di dekat Selat Hormuz pada Selasa, yang menggarisbawahi situasi keamanan yang rapuh di kawasan tersebut.

Data industri yang dirilis pada akhir Selasa menunjukkan adanya kenaikan stok minyak mentah AS. American Petroleum Institute (API) mengumumkan bahwa persediaan minyak mentah naik sebesar 2,69 juta barel dalam pekan yang berakhir 31 Juli, dibandingkan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 2 juta barel.

Pasar kini menantikan data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dijadwalkan rilis pada Rabu ini untuk mengkonfirmasi tren persediaan tersebut.

Artikel ini diterbitkan oleh Investing.com

Artikel Terkait