Investing.com — Euro telah mulai berperan sebagai mata uang safe-haven selama beberapa peristiwa tekanan pasar pada 2025 dan awal 2026, menurut laporan Bank Sentral Eropa (ECB) yang diterbitkan Selasa.
Mata uang tersebut menguat bersama safe-haven tradisional seperti franc Swiss dan yen Jepang selama episode risk-off, menandai pergeseran dari pola historis yang biasa terjadi.
Antara Januari 2006 hingga April 2026, nilai tukar efektif euro biasanya mengalami apresiasi moderat sekitar 0,1% selama peristiwa risk-off, dibandingkan dengan hampir 0,7% untuk franc Swiss.
Perilaku safe-haven euro muncul secara signifikan setelah pemerintahan AS memperkenalkan tarif pada 2 April 2025, yang memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global. Selama periode ini, euro menguat sementara dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi Treasury AS naik.
Pola serupa terjadi selama peristiwa risk-off lainnya yang berasal dari Amerika Serikat sepanjang 2025 dan awal 2026.
Euro menguat ketika Departemen Kehakiman AS mengeluarkan subpoena kepada Federal Reserve dan ketika pemerintahan AS mengancam akan meningkatkan tarif atas impor dari Eropa.
Menyusul meletusnya perang di Timur Tengah, euro awalnya melemah sebelum memulihkan sebagian kerugiannya seiring meredanya ketegangan geopolitik. Kekuatan dolar AS selama periode ini sebagian dijelaskan oleh faktor risiko global, sementara perbedaan prospek ekonomi antara AS dan kawasan euro juga memengaruhi nilai tukar.
Data menunjukkan bahwa nilai Treasury AS yang disimpan dalam kustodi di Federal Reserve New York oleh lembaga-lembaga resmi turun sebesar $82 miliar menjadi $2,7 triliun pada Maret 2026, level terendah sejak 2012.
Convenience yield untuk obligasi pemerintah Jerman (bund) meningkat pada 2025, sementara pembelian utang dan ekuitas kawasan euro oleh investor asing mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun pada akhir 2025.





