Investing.com- Harga minyak melanjutkan kenaikan pada Rabu di tengah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah dan terhentinya negosiasi antara AS dan Iran, sementara data industri yang menunjukkan penurunan tajam dalam persediaan minyak mentah AS turut memperkuat sentimen bullish.
Per pukul 17:05 WIB, futures minyak Brent yang berakhir pada Agustus, patokan minyak global, naik 2,5% ke $98,35 per barel, sementara futures minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,7% ke $96,25 per barel.
Kedua kontrak tersebut telah menguat lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.
Para investor tetap fokus pada situasi di Timur Tengah, di mana harapan akan terobosan dalam pembicaraan AS-Iran memudar seiring terjadinya kembali serangkaian serangan dari kedua belah pihak.
Sementara itu, Israel terus melancarkan operasi militer di Lebanon selatan, dan Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan rudal dan drone dari Iran.
Pasukan AS melancarkan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran, demikian disampaikan Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X pada Selasa. Pulau tersebut terletak dekat Selat Hormuz, jalur perairan vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Laporan mengindikasikan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran telah terhenti dalam beberapa hari terakhir, meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi masih berlangsung. Media Iran meragukan prospek tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat, sehingga mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi.
Putaran perundingan berikutnya yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Menopang harga lebih lanjut, data dari American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sebesar 6,8 juta barel dalam pekan yang berakhir 29 Mei, jauh melampaui ekspektasi penurunan sebesar 3,6 juta barel.
Para pelaku pasar kini menantikan angka persediaan resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang akan dirilis pada Rabu ini.
Para investor juga menantikan serangkaian indikator ekonomi AS yang akan dirilis pada Rabu ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, survei jasa ISM, dan data pesanan pabrik.
Angka-angka tersebut hadir menjelang laporan nonfarm payrolls yang sangat dinantikan pada Jumat mendatang.





