Harga Minyak Turun Setelah Reli Tajam, Pasar Pantau Hormuz dan Pertemuan Trump-Xi

Investing.com- Harga minyak sedikit melemah dalam perdagangan Asia pada Rabu setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut, karena para trader mempertimbangkan gangguan berkelanjutan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz dan mencermati data persediaan minyak AS.

Per pukul 07:19 WIB, Brent Oil Futures yang jatuh tempo Juli turun 0,4% ke $107,36 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) crude futures melemah 0,3% ke $101,91 per barel.

Kedua kontrak tersebut melonjak lebih dari 3% pada sesi sebelumnya.

Pasar tetap waspada setelah Presiden AS Donald Trump menyebut prospek gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “sekarat” dan menolak respons terbaru Teheran terhadap proposal perdamaian yang didukung AS, sehingga memicu kekhawatiran bahwa konflik tersebut bisa berlarut-larut.

Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global, sebagian besar masih tertutup bagi lalu lintas komersial setelah Iran memperketat pembatasan menyusul meletusnya perang awal tahun ini.

Badan Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration) pada Selasa menyatakan bahwa pihaknya kini memperkirakan Selat tersebut akan tetap tertutup secara efektif hingga akhir Mei, sehingga memaksa penurunan persediaan global yang jauh lebih tajam dari perkiraan sebelumnya.

Lembaga tersebut memperkirakan cadangan minyak global bisa menyusut sebesar 2,6 juta barel per hari tahun ini, sementara harga Brent mungkin rata-rata sekitar $106 per barel pada Mei dan Juni.

Pasar juga memantau KTT terjadwal Presiden AS Donald Trump dengan Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei, di mana pembahasan diperkirakan akan mencakup konflik Iran, ketegangan perdagangan, tarif, dan ketahanan energi.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu, dengan pertemuan bilateral dan jamuan makan malam kenegaraan dijadwalkan pada Kamis, dilanjutkan dengan pembicaraan lebih lanjut pada Jumat.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser telah memperingatkan bahwa pasar minyak mungkin tidak akan pulih sepenuhnya hingga 2027 akibat gangguan berkepanjangan yang terkait dengan Hormuz. Arab Saudi telah meningkatkan penggunaan jalur pipa East-West untuk melewati selat tersebut, meskipun para analis mengatakan rute alternatif tidak dapat sepenuhnya mengkompensasi ekspor Teluk yang terhambat.

Data dari American Petroleum Institute yang dirilis pada Selasa malam menunjukkan stok minyak mentah turun sebesar 2,188 juta barel dalam pekan yang berakhir 8 Mei, menandai penurunan mingguan keempat berturut-turut.

Pasar juga mencerna laporan indeks harga konsumen (consumer price index) AS yang dirilis Selasa, yang menunjukkan inflasi tetap kuat, sehingga memperumit prospek kebijakan Federal Reserve. Para investor kini menantikan data indeks harga produsen (producer price index) AS yang akan dirilis pada Rabu untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan harga yang mendasarinya dan langkah bank sentral berikutnya.

Suku bunga AS yang tinggi dalam jangka panjang berpotensi memperlambat pertumbuhan permintaan bahan bakar secara global, sehingga sebagian mengimbangi kenaikan harga yang didorong oleh faktor pasokan.

Artikel ini diterbitkan oleh Investing.com

Artikel Terkait