Investing.com — Presiden Trump telah mengambil keputusan mengenai calonnya untuk menjabat sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, langkah yang berpotensi mengubah secara fundamental pendekatan bank sentral terhadap kebijakan moneter di tengah tekanan politik yang meningkat terhadap lembaga tersebut.
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Rabu malam, Presiden mengonfirmasi bahwa ia telah finalisasi pilihannya untuk memimpin bank sentral paling berpengaruh di dunia. Namun, ia belum melakukan pengumuman resmi, sehingga pasar dan anggota parlemen tetap dalam ketidakpastian.
“Saya sudah memiliki keputusan di benak saya,” kata Trump kepada Times. “Saya belum membicarakannya dengan siapa pun.”
Meskipun Presiden enggan menyebutkan pilihannya, ia memberikan sinyal yang mencolok mengenai Kevin A. Hassett, penasihat ekonomi utamanya. Ketika ditanya secara langsung apakah Hassett adalah pilihannya, Trump dilaporkan bersikap misterius namun memuji.
“Saya tidak ingin mengatakan,” kata Presiden, sebelum menambahkan bahwa Hassett adalah “tentu salah satu orang yang saya sukai.”
Hassett, yang dikenal karena dukungannya terhadap ekonomi sisi penawaran dan reformasi pajak, akan mewakili pergeseran ke arah filosofi yang lebih sejalan dengan pemerintahan di Fed. Jika terpilih, ia akan menggantikan Jerome H. Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei.
Sebelumnya dilaporkan bahwa mantan Gubernur Fed Kevin Warsh dan Gubernur saat ini Christopher Waller juga termasuk di antara calon terdepan untuk menggantikan Powell.
Ketua Fed berikutnya akan mewarisi institusi yang terjebak dalam pertarungan historis antara kemandirian institusional dan tuntutan cabang eksekutif. Selama setahun terakhir, Ketua Powell sering menjadi sasaran kritik Presiden, terutama terkait laju pemotongan suku bunga.
Wall Street tetap waspada menanti pengumuman resmi calon Ketua Fed. Kemampuan Ketua Fed untuk menavigasi target inflasi sambil menahan campur tangan politik dianggap sebagai fondasi stabilitas keuangan global. Pergeseran ke arah Ketua yang dianggap lebih “politik” dapat memicu volatilitas di pasar obligasi dan mempengaruhi arah jangka panjang Dolar AS.





