Mata Uang Asia Tertekan

Sebagian besar mata uang Asia bergerak dalam rentang datar hingga melemah pada Kamis, seiring The Federal Reserve yang tetap tidak memberikan sinyal pasti terkait pemangkasan suku bunga di masa depan, sementara data ekonomi China yang lemah turut membebani pasar.

Yen Jepang menjadi pengecualian dengan menguat tajam setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga tetap, namun menyatakan siap menaikkan suku bunga jika inflasi dan pertumbuhan ekonomi sesuai perkiraan.

Penguatan dolar AS menekan sebagian besar mata uang regional, setelah dolar mencapai level tertinggi dua bulan dalam perdagangan malam sebelumnya pasca keputusan The Fed mempertahankan suku bunga dan memberi sinyal kecil kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Pada Kamis, dolar sedikit memangkas keuntungan semalam, dengan indeks dolar dan kontrak berjangka indeks dolar masing-masing turun 0,1%.

Pasar regional masih waspada terhadap kebijakan perdagangan AS, terutama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 25% terhadap India. Pasangan USD/INR untuk rupee India cenderung datar.

Won Korea Selatan melemah tipis terhadap dolar setelah Trump juga mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan Seoul yang akan memberlakukan tarif 15% bagi Korea Selatan.

Yen Jepang Menguat Setelah BOJ Pertahankan Suku Bunga namun Siap Naikkan Jika Perlu
Pasangan USD/JPY melemah 0,5% setelah BOJ mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan.

Namun, bank sentral menaikkan proyeksi inflasi indeks harga konsumen dan produk domestik bruto tahun ini, dengan inflasi inti kini diperkirakan jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

BOJ juga memperingatkan bahwa suku bunga riil masih rendah dan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut jika inflasi dan pertumbuhan sesuai harapan.

Keputusan menahan suku bunga ini sudah diperkirakan pasar, mengingat ketidakpastian politik yang meningkat di Jepang setelah partai Liberal Demokrat kehilangan mayoritas.

Namun ketidakpastian ini diperkirakan akan mereda tahun ini, dengan analis semakin memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober.

 

Yuan China Stabil Setelah Data PMI Juli yang Mengecewakan

Pasangan USDCNY untuk yuan China bergerak datar pada Kamis setelah data Purchasing Managers Index (PMI) Juli yang kurang menggembirakan.

PMI manufaktur menyusut lebih dari perkiraan, demikian juga PMI non-manufaktur, yang penurunannya sebagian disebabkan oleh cuaca ekstrem. PMI komposit China nyaris stagnan bulan ini.

Tekanan domestik juga meniadakan sebagian manfaat dari membaiknya hubungan perdagangan dengan AS setelah kedua negara memangkas tarif perdagangan lebih awal tahun ini.

Data tersebut menyoroti hambatan berkelanjutan yang dihadapi perekonomian China, terutama ketika Beijing berupaya mendongkrak pertumbuhan dan pengeluaran swasta. Pertemuan Politbiro China pada Rabu menjanjikan stimulus lebih lanjut, meski dengan sedikit rincian.

Mata uang Asia lainnya bergerak minim, dengan perhatian lebih tertuju pada tenggat waktu tarif AS pada Jumat. Pasangan USDSGD dolar Singapura melemah 0,2%, sementara AUDUSD dolar Australia menguat 0,3%, mengembalikan sebagian kerugian semalam.

Artikel ini diterbitkan oleh investing.com

Artikel Terkait