Mata Uang Asia Melemah Tipis, Dolar Stabil Jelang Pidato Powell; Yen Lesu Usai Data Inflasi

Investing.com – Mayoritas mata uang Asia melemah tipis pada hari Jumat, sementara dolar AS bergerak stabil setelah penguatan sebelumnya. Pelaku pasar menanti arahan lebih lanjut terkait suku bunga AS dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.

Yen Jepang melemah setelah data menunjukkan inflasi konsumen (CPI) melambat pada Juli. Namun, inflasi inti masih tinggi, membatasi penurunan yen dan menjaga spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) mungkin akan kembali menaikkan suku bunga.

Yen, bersama dengan sebagian besar mata uang Asia, berada di jalur pelemahan mingguan karena berkurangnya ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September—sentimen ini justru menguatkan dolar AS.

 

Yen Melemah Setelah Inflasi Melambat

Pasangan USD/JPY naik 0,2%, mencerminkan reaksi terbatas terhadap data CPI Jepang yang menunjukkan bahwa inflasi melambat pada bulan Juli.

Namun, inflasi inti (core inflation) turun lebih kecil dari perkiraan, dan inflasi mendasar tetap jauh di atas target tahunan BoJ sebesar 2%. Kondisi ini membantu membatasi pelemahan yen, seiring meningkatnya spekulasi bahwa BoJ dapat kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

BoJ kini menghadapi tekanan untuk melanjutkan pengetatan kebijakan, di tengah sinyal inflasi yang masih persisten dan daya tahan ekonomi Jepang yang relatif kuat.

Meski begitu, pasangan USD/JPY telah naik 0,9% sepanjang minggu ini, mencerminkan tekanan pada yen dan mata uang Asia lainnya akibat memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.

 

Dolar Stabil Jelang Pidato Powell; Harapan Pemangkasan Suku Bunga Melemah

Indeks dolar dan kontrak berjangka indeks dolar naik sekitar 0,1% dalam perdagangan Asia dan bersiap untuk mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,9%.

Penguatan dolar terutama didorong oleh melemahnya ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September, khususnya setelah risalah pertemuan The Fed bulan Juli menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan masih khawatir terhadap inflasi dan dampak tarif perdagangan yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Data Fed Fund Futures dari CME FedWatch menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin turun ke 73,1%, dari sebelumnya 92,2% seminggu lalu.

Kini pasar memusatkan perhatian pada pidato Jerome Powell di Simposium Jackson Hole yang digelar Jumat malam waktu AS. Investor akan mengamati apakah tanda-tanda perlambatan inflasi dan pertumbuhan tenaga kerja AS akan mendorong perubahan sikap dari Powell, yang sejauh ini masih belum menunjukkan komitmen terhadap pelonggaran moneter lebih lanjut.

Keraguan terhadap pemangkasan suku bunga AS memberikan tekanan pada sebagian besar mata uang Asia minggu ini, dengan pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang pidato Powell.

Pasangan USD/CNY (yuan Tiongkok) naik sedikit dan mencatat kenaikan tipis secara mingguan. Pasangan USD/KRW (won Korea Selatan) turun 0,5% harian, namun tetap naik 0,3% minggu ini. Sementara itu, dolar Taiwan (USD/TWD) menjadi salah satu yang terlemah minggu ini, dengan kenaikan 1,7%.

Pasangan AUD/USD (dolar Australia) dan USD/SGD (dolar Singapura) relatif stabil. Sedangkan USD/INR (rupee India) naik 0,1% setelah sempat terkoreksi dari rekor tertinggi di awal Agustus. Data PMI yang positif dari India hari Kamis menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan dari tarif perdagangan AS yang meningkat.

Artikel ini diterbitkan oleh investing.com

Artikel Terkait