Investing.com – Sebagian besar mata uang Asia melemah pada Rabu seiring penguatan dolar AS yang didorong oleh data ekonomi yang optimis. Fokus pasar tertuju pada lelang obligasi tenor terpanjang Jepang di tengah lonjakan imbal hasil baru-baru ini.
Investor juga mencermati data inflasi konsumen Australia yang dirilis pada hari yang sama, serta memproses keputusan pemangkasan suku bunga terbaru dari bank sentral Selandia Baru.
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,3% pada jam perdagangan Asia, setelah mencatatkan penguatan signifikan sehari sebelumnya.
Kontrak berjangka indeks dolar juga diperdagangkan menguat 0,3%.
Data hari Selasa menunjukkan bahwa sentimen konsumen AS pada bulan Mei melonjak jauh di atas ekspektasi.
Lelang Obligasi 40 Tahun Jepang Jadi Sorotan di Tengah Lonjakan Imbal Hasil
Yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS, dengan pasangan USD/JPY naik 0,2% pada Rabu. Pasangan ini telah naik hampir 1% pada perdagangan Selasa.
Pergerakan ini terjadi setelah laporan Reuters pada Selasa yang menyebutkan bahwa Kementerian Keuangan Jepang sedang mempertimbangkan untuk menyesuaikan rencana penerbitan obligasi pemerintah pada tahun fiskal berjalan, termasuk kemungkinan pengurangan penjualan obligasi berjangka sangat panjang.
Sebelum laporan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 20, 30, dan 40 tahun telah menyentuh rekor tertinggi, dipicu oleh menurunnya permintaan dari investor institusi utama seperti perusahaan asuransi jiwa.
Kini, perhatian pasar sepenuhnya tertuju pada lelang obligasi tenor terpanjang Jepang yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Mata Uang Asia Melemah; Inflasi Australia dan Keputusan Suku Bunga RBNZ Jadi Perhatian
Pasangan USD/CNY (yuan onshore) dan USD/CNH (yuan offshore) masing-masing naik 0,1% pada Rabu. Sementara itu, pasangan AUD/USD (dolar Australia) cenderung stagnan setelah memangkas kerugian sebelumnya, menyusul data yang menunjukkan bahwa inflasi konsumen Australia pada April lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini memunculkan keraguan terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia di masa mendatang.
Di sisi lain, bank sentral Selandia Baru (RBNZ) pada Rabu memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sesuai ekspektasi, di tengah ketegangan perdagangan global dan pertumbuhan domestik yang lemah.
Pasangan NZD/USD (dolar Selandia Baru) naik 0,4%.
Sementara itu, pasangan USD/KRW (won Korea Selatan) bergerak stabil, dan pasangan USD/SGD (dolar Singapura) naik 0,1%.
Pasangan USD/INR (rupee India) tercatat menguat 0,3%.
Artikel ini diterbitkan oleh Investing,com





