Mata Uang Asia Bergerak Tipis, Dolar Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Investing.com – Sebagian besar mata uang Asia diperdagangkan dalam kisaran sempit pada Rabu (30/7), sementara dolar AS melemah tipis dari penguatannya awal pekan ini. Pasar valas global bersikap hati-hati menjelang pengumuman keputusan suku bunga dari Federal Reserve yang dijadwalkan dalam beberapa jam ke depan.

Mata uang global sempat mencatatkan penguatan di awal pekan didorong oleh optimisme atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun sentimen itu cepat memudar akibat meningkatnya kewaspadaan terhadap keputusan The Fed, serta tenggat waktu tarif dagang tambahan AS yang semakin dekat.

Fokus pasar minggu ini juga tertuju pada pertemuan Bank of Japan, rilis data PMI Tiongkok pada Kamis, serta data ketenagakerjaan nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat.

Dolar Melemah di Tengah Antisipasi Pasar

Indeks dolar AS dan kontrak berjangka dolar masing-masing melemah sekitar 0,1% dalam perdagangan Asia, setelah mencatat penguatan signifikan di awal minggu. Penguatan dolar sebelumnya didorong oleh kabar bahwa AS dan Uni Eropa menandatangani kesepakatan dagang yang mencakup tarif 15% untuk blok tersebut, serta rencana investasi UE sebesar $600 miliar di AS.

Dolar juga mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dan tidak memberikan sinyal pemangkasan lanjutan, meski Presiden Donald Trump terus mendorong pemotongan suku bunga. Namun tekanan politik dari Trump dapat memicu perbedaan pendapat di internal The Fed, dengan kemungkinan dua gubernur—Christopher Waller dan Michelle Bowman—menolak keputusan Powell, menurut laporan Wall Street Journal.

Beberapa tanda perlambatan di pasar tenaga kerja dan kejelasan lebih lanjut soal tarif dagang Trump bisa membuka ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga di masa mendatang.

Mata Uang Regional Bergerak Terbatas

Dolar Australia (AUDUSD) menguat 0,1% meski data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) kuartal II menunjukkan hasil lebih rendah dari ekspektasi. Inflasi inti tetap berada dalam target tahunan 2%–3% dari Reserve Bank of Australia, sementara data CPI bulanan untuk Juni menunjukkan penurunan lebih besar dari perkiraan.

Inflasi yang lebih lunak memberi ruang bagi RBA untuk memangkas suku bunga jika diperlukan, setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli secara tak terduga.

Sebagian besar mata uang Asia lainnya bergerak terbatas menjelang sejumlah rilis data ekonomi. Pasar juga mencermati keputusan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di level saat ini.

Yen Jepang (USDJPY) melemah 0,4% setelah sebelumnya menguat tajam. Fokus tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan hari Kamis, yang secara luas diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik domestik.

Yuan Tiongkok (USDCNY) stabil menjelang rilis data PMI, yang diharapkan menunjukkan perbaikan setelah ketegangan dagang AS–Tiongkok mereda dalam beberapa bulan terakhir.

Dolar Singapura (USDSGD) turun 0,1% setelah Otoritas Moneter Singapura mempertahankan kebijakan moneternya tidak berubah, seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi.

Won Korea Selatan (USDKRW) turun 0,5% di tengah negosiasi lanjutan mengenai kesepakatan dagang dengan AS. Beberapa negara besar tengah berlomba untuk menandatangani kesepakatan dagang dengan AS sebelum tenggat 1 Agustus yang ditetapkan Trump.

Rupee India (USDINR) nyaris tak bergerak, meskipun menghadapi tekanan setelah pernyataan Trump bahwa India bisa dikenakan tarif 20% hingga 25%. Prospek tercapainya kesepakatan dagang India-AS sebelum 1 Agustus juga dinilai semakin kecil.

Artikel ini diterbitkan oleh investing.com

Artikel Terkait