Investing.com— Harga emas naik dalam perdagangan Asia pada hari Rabu, bangkit dari level terendah satu minggu setelah Amerika Serikat memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, meskipun pasar masih belum memiliki kejelasan terkait prospek pembicaraan damai ke depan.
Logam kuning juga sempat tertekan oleh pernyataan calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang menegaskan bahwa ia tidak memberikan janji kepada Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga jika nantinya dikonfirmasi menjabat.
Harga emas spot naik 0,7% ke $4.755,27 per ounce, sementara emas berjangka naik 1,1% ke $4.772,44/oz pada pukul 22:38 ET (02:38 GMT). Harga spot masih bergerak dalam kisaran $4.700–$4.900/oz yang terlihat selama dua minggu terakhir.
Logam mulia lainnya juga mengalami rebound pada hari Rabu. Perak spot naik 1,5% ke $77,7925/oz, sementara platinum spot naik 1,7% ke $2.074,38/oz.
Meskipun perpanjangan gencatan senjata Iran memberikan sedikit kelegaan, status pembicaraan damai ke depan masih sangat tidak pasti. Negosiasi potensial antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa batal pada menit-menit terakhir.
Trump menyatakan bahwa blokade angkatan laut terhadap Iran akan tetap diberlakukan, yang memicu kemarahan pejabat Iran yang menyebutnya sebagai “tindakan perang.”
Harga emas mengalami kesulitan sejak pecahnya konflik Iran, karena permintaan safe haven tertutupi oleh kekhawatiran terhadap dampak inflasi akibat perang tersebut.
Harga logam mulia juga tertekan oleh penguatan dolar pada hari Selasa, seiring penguatan greenback yang mengikuti pernyataan Warsh.
Warsh menekankan independensi The Fed dari pengaruh politik, namun juga mengisyaratkan kemungkinan perubahan kebijakan besar di bank sentral jika ia dikonfirmasi sebagai ketua.
Warsh—mantan gubernur The Fed—dipandang sebagai kandidat yang kurang dovish dibandingkan ekspektasi pasar. Nominasi dirinya sempat memicu penurunan tajam pada harga emas dan logam mulia pada akhir Januari.





