Investing.com– Harga minyak bergerak lebih rendah dalam perdagangan Asia pada Selasa, tertekan oleh prospek kesepakatan damai yang ditengahi AS antara Rusia dan Ukraina, meskipun penurunan terbatas karena sanksi ketat AS terhadap perusahaan minyak terbesar Moskow mulai berlaku.
Sementara harga minyak mencatat beberapa kenaikan pada Senin, komoditas ini masih menanggung kerugian tajam dalam beberapa minggu terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan yang akan datang dan melemahnya permintaan global. Meningkatnya spekulasi mengenai pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve pada Desember memberikan sedikit dukungan, terutama karena dolar tetap stabil.
Futures minyak Brent untuk Januari turun 0,3% ke $63,20 per barel, sementara futures minyak West Texas Intermediate turun 0,1% ke $58,72 per barel pada 20:37 ET (01:37 GMT).
Meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah tidak banyak membantu menopang harga minyak, bahkan ketika laporan menyebutkan Israel kembali melanggar gencatan senjata Gaza yang ditengahi AS.
AS dan Ukraina terlihat bekerja sama dalam kesepakatan damai Rusia
Pejabat AS dan Ukraina terlihat bekerja sama menyusun rencana komprehensif untuk mengakhiri perang dengan Rusia, menurut laporan pada Senin. Keduanya juga mengumumkan rencana yang diperbarui setelah pembicaraan damai di Jenewa pada Minggu, meskipun sedikit detail yang dibagikan.
Washington sebelumnya bulan ini mengungkapkan rencana 28 poin yang ditujukan untuk mengakhiri perang, meskipun proposal tersebut dikritik karena dianggap terlalu condong pada kepentingan Rusia.
Namun demikian, prospek berakhirnya perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan membebani pasar minyak, mengingat skenario tersebut dapat secara signifikan membuka kembali pengiriman minyak Rusia, meningkatkan pasokan.
Any further increases in supply will add to already well-stocked markets, and could result in a bigger-than-anticipated supply glut in the coming year.
Setiap peningkatan pasokan lebih lanjut akan menambah pasar yang sudah penuh, dan dapat menghasilkan kelebihan pasokan yang lebih besar dari perkiraan pada tahun mendatang.
Dampak sanksi AS-Rusia menjadi sorotan
Sanksi AS terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia, Rosneft dan Lukoil, mulai berlaku minggu lalu.
Pasar kini menunggu untuk melihat apakah pembatasan tersebut—yang termasuk di antara sanksi AS paling ketat terhadap Rusia hingga saat ini—akan secara signifikan mengganggu pasokan minyak global.
Sanksi tersebut memutus beberapa jalur ekspor bagi industri minyak Rusia dan akan membuat pembeli besar lebih sulit mendapatkan minyak mentah dari negara tersebut.
Berita mengenai sanksi sebelumnya sempat mengangkat harga minyak, meskipun kenaikan tersebut berumur pendek di tengah kekhawatiran yang lebih luas terhadap kelebihan pasokan.





