Investing.com– Harga minyak relatif stabil dalam perdagangan Asia pada hari Jumat, namun bersiap mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, seiring kekhawatiran berkelanjutan terhadap kelebihan pasokan global yang mendominasi sentimen pasar, mengalahkan dukungan dari risiko pasokan geopolitik.
Per pukul 20:32 ET (01:32 GMT), kontrak berjangka Brent Oil yang berakhir pada Februari turun 0,2% menjadi $59,71 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3% ke $55,99 per barel.
Kedua acuan tersebut diperkirakan turun hampir 2,5% sepanjang pekan ini karena para trader berfokus pada pasokan yang melimpah dan sinyal permintaan yang rapuh.
Kekhawatiran kelebihan pasokan menekan harga minyak
Pasar terbebani oleh ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan terus melampaui permintaan hingga 2026, dengan peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC serta pertumbuhan konsumsi yang lesu di ekonomi-ekonomi utama yang menjaga persediaan tetap melimpah.
Organisation of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya secara bertahap telah meningkatkan produksi tahun ini seiring mereka mencabut pemangkasan sukarela sebelumnya, menambahkan volume signifikan ke pasar global yang sudah kelebihan pasokan.
Permintaan yang lemah di China memperparah kekhawatiran ini. Importir minyak mentah terbesar dunia tersebut mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dalam output industri dan aktivitas konsumen, sehingga membatasi peningkatan konsumsi bahan bakar.
Data terbaru yang menunjukkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar yang nyaman di Amerika Serikat dan sebagian Asia memperkuat pandangan bahwa pasar tetap terlindungi dengan baik dari gangguan.
Trader menilai ketegangan AS–Venezuela, risiko sanksi terhadap Rusia
Meski demikian, investor tetap memantau dengan cermat potensi risiko pasokan. Salah satu fokus perhatian adalah kemungkinan sanksi tambahan AS terhadap sektor energi Rusia jika upaya untuk mengamankan kesepakatan damai di Ukraina gagal.
Langkah yang lebih keras yang menargetkan ekspor minyak mentah Rusia atau pengapalan dapat memperketat pasokan global, meskipun waktu dan cakupan tindakan tersebut masih belum pasti.
Para trader juga menilai risiko terkait ekspor minyak Venezuela menyusul tindakan penegakan terbaru dari AS. Kekhawatiran meningkat terhadap potensi pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela, yang dapat mengganggu pengiriman minyak mentah ke pasar internasional.
Venezuela telah kesulitan mempertahankan ekspor yang stabil di bawah sanksi yang ada, dan penegakan yang lebih ketat dapat semakin membatasi kemampuannya untuk menyalurkan minyak ke luar negeri.





