Emas Menguat Imbas Kebijakan Tarif Trump, Pasar Waspada Jelang Rilis Data CPI

Harga Emas Naik, Putusan Tarif Trump Redam Optimisme Dagang Tiongkok; Pasar Nantikan Data CPI

Investing.com — Harga emas naik dalam perdagangan Asia pada Rabu (11/6), didorong oleh putusan pengadilan yang mengizinkan tarif perdagangan era Presiden Donald Trump tetap berlaku. Keputusan ini sebagian besar mengimbangi optimisme pasar terhadap kemajuan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Permintaan aset aman (safe haven) juga meningkat menjelang rilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis hari ini, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi terbesar dunia dan arah kebijakan suku bunga.

AS dan Tiongkok mengumumkan kesepakatan kerangka kerja untuk perdagangan, yang sempat memicu aksi beli aset berisiko di Asia dan membatasi penguatan emas. Namun, indeks saham berjangka AS turun dalam perdagangan regional setelah pengadilan banding AS memutuskan untuk tetap memberlakukan tarif perdagangan Trump, setidaknya hingga ada keputusan lebih lanjut terkait putusan pengadilan sebelumnya yang berupaya membatalkan tarif tersebut.

Harga emas spot naik 0,6% menjadi $3.341,03 per ons, sementara kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus juga naik 0,6% menjadi $3.362,25 per ons pada pukul 00:29 ET (04:29 GMT).

Emas Menguat karena Kekhawatiran Tarif Trump Bayangi Optimisme Dagang

Harga emas mendapat dukungan dari aksi jual aset berisiko di pasar berjangka AS, setelah pengadilan banding memutuskan untuk mempertahankan tarif Trump sambil mempertimbangkan putusan sebelumnya yang membatalkan rencana tarif tersebut.

Putusan pada Selasa ini memungkinkan rencana tarif Trump yang dikenal sebagai “liberation day tariffs” — yang menetapkan bea masuk tinggi terhadap mitra dagang utama — tetap berjalan menjelang tenggat awal Juli.

Kabar ini mengimbangi sentimen positif dari pengumuman bahwa AS dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk perundingan dagang. Namun, rincian dari kesepakatan tersebut masih minim. Pejabat AS mengatakan bahwa kerangka ini akan meresmikan deeskalasi perdagangan yang dicapai pada Mei di Jenewa, serta membantu menyelesaikan masalah ekspor logam tanah jarang Tiongkok dan pembatasan ekspor chip dari AS.

Namun, pasar kini menanti rincian konkret dari kesepakatan tersebut, yang membatasi sentimen risiko di Asia.

Harga emas masih bergerak dalam kisaran konsolidasi baru-baru ini, dan belum mampu kembali ke rekor tertinggi yang dicapai awal tahun ini.

Logam Mulia dan Logam Industri Menguat

Logam mulia lainnya juga menunjukkan performa positif di dekat level tertinggi multi-tahun. Kontrak berjangka platinum melonjak 1,4% menjadi $1.237,50 per ons — mendekati puncak tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Sementara itu, kontrak berjangka perak naik 0,3% ke $36,765 per ons, mendekati level tertinggi dalam lebih dari 13 tahun.

Di antara logam industri, kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange naik 0,2% menjadi $9.770,03 per ton, sementara kontrak tembaga AS naik 0,2% ke $4,8970 per pon.

Pasar Nantikan Data CPI untuk Petunjuk Ekonomi dan Suku Bunga

Fokus investor kini tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu, untuk mendapatkan sinyal lebih lanjut terkait kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi meningkat tipis pada Mei dan tetap tinggi seperti bulan-bulan sebelumnya di tahun 2025. Tekanan harga di AS belakangan ini stagnan, sebagian dipicu oleh gangguan dari tarif Trump yang juga mendorong naiknya harga barang konsumen.

Dolar AS menguat menjelang rilis data CPI, mengingat angka inflasi yang tinggi bisa memberi alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga. Penguatan dolar ini turut membatasi kenaikan di pasar logam.

Artikel ini diterbitkan oleh Investing.com

Artikel Terkait