Harga Minyak Naik Akibat Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Investing.com – Harga minyak mengalami kenaikan setelah serangan Amerika Serikat ke Iran serta ancaman baru dari Israel terhadap Teheran kembali memicu kekhawatiran atas gangguan pasokan dari Timur Tengah. Meski begitu, kenaikan harga ini tertahan oleh pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang memberi sinyal keterbukaan terhadap negosiasi perdamaian.

Kontrak berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) AS sama-sama mencatatkan kenaikan persentase tipis. Kedua kontrak tersebut menuju penguatan hari keempat berturut-turut dan sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir.

Menteri Kesehatan Iran melaporkan adanya korban jiwa dan luka-luka akibat serangan AS di wilayahnya. Lembaga Bulan Sabit Merah Iran serta media setempat juga mengonfirmasi jatuh korban di area dekat Selat Hormuz, termasuk beberapa pilot militer Iran. Serangan ini menjadi kontak tembak paling signifikan antara AS dan Iran dalam beberapa bulan terakhir, di mana konflik yang melibatkan AS dan Israel ini telah memasuki bulan ketujuh.

Menteri Pertahanan Israel memperbarui peringatan bahwa pihak militer akan melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi, jika Teheran melakukan serangan balasan. Pernyataan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, pernyataan Presiden Putin di sebuah forum ekonomi mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai di Ukraina—dengan dukungan beberapa negara—membantu meredakan kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan bahan bakar dari Rusia.

Data pelayaran menunjukkan penurunan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz dibandingkan hari sebelumnya dan rata-rata harian. Pasar minyak dinilai tetap ketat seiring penurunan persediaan minyak secara global yang berujung pada kenaikan harga. Sementara itu, Iran memperpanjang daftar kapal yang dinilai melanggar aturan dan berisiko dikenakan sanksi atau penyitaan jika melintasi selat tersebut, meski beberapa kapal dari negara tetangga seperti Irak masih diizinkan lewat.

Ekspor minyak Irak dilaporkan mengalami peningkatan seiring adanya diskon besar serta izin melintas dari pihak Iran yang menarik minat pembeli. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi, yang kemudian meningkatkan spekulasi terkait kenaikan suku bunga Bank Sentral AS bulan ini.

Artikel ini diterbitkan oleh Investing.com

Artikel Terkait