Investing.com – Harga emas mengalami penurunan dalam perdagangan Asia pada hari Senin, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang stabil, di tengah ancaman tarif tambahan dari Presiden AS Donald Trump. Selain itu, data ketenagakerjaan yang kuat pada pekan lalu juga melemahkan ekspektasi akan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Ancaman tarif dari Trump tidak banyak mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, mengingat Presiden AS tersebut juga menunda tenggat pemberlakuan tarif perdagangan dari tanggal 9 Juli menjadi 1 Agustus.
Trump mengancam akan memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap negara-negara anggota blok BRICS, serta menyatakan akan mulai mengirimkan surat berisi rencana tarifnya kepada negara-negara besar mulai hari Senin.
Harga emas spot turun 0,7% menjadi $3.312,12 per ons, sementara emas berjangka untuk pengiriman September turun 0,8% menjadi $3.320,67 per ons pada pukul 00.10 ET (04.10 GMT).
Trump Ancam Tarif Tambahan terhadap BRICS, Perpanjang Tenggat 9 Juli
Pada hari Minggu, Trump menyatakan bahwa kenaikan tarif yang direncanakannya akan mulai berlaku per 1 Agustus, menggantikan jadwal sebelumnya pada 9 Juli. Perubahan ini dinilai memberikan waktu lebih bagi negara-negara terkait untuk merundingkan kesepakatan dagang dengan AS.
Trump juga menyampaikan bahwa ia akan mulai mengirimkan surat kepada negara-negara besar terkait rincian tarif tersebut mulai hari Senin, meskipun belum jelas secara pasti level tarif apa yang akan diterapkan. Sebelumnya, pada bulan April, Trump telah menyampaikan rencana tarif antara 10% hingga 50% terhadap negara-negara utama.
Selain itu, Presiden AS tersebut juga mengancam akan mengenakan bea tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang tergabung dalam aliansi BRICS, yang ia klaim bersifat anti-Amerika.
Namun, pernyataan Trump ini tidak serta-merta meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai, karena perpanjangan tenggat waktu tarif menunda dampak langsung dari kebijakan perdagangan tersebut.
Sejauh ini, AS hanya menandatangani sedikit kesepakatan perdagangan—termasuk dengan Inggris, Tiongkok, dan Vietnam—sejak bulan April, jauh dari klaim Trump yang menyatakan akan mencapai 90 kesepakatan dagang dalam 90 hari.
Dolar Stabil di Tengah Melemahnya Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga, Harga Logam Tertekan
Harga emas dan logam lainnya juga tertekan oleh kekuatan dolar AS, yang mempertahankan sebagian besar penguatannya dari pekan lalu setelah rilis data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan.
Kontrak berjangka platinum turun hampir 2% menjadi $1.381,0 per ons setelah mengalami reli signifikan pada bulan Juni. Kontrak berjangka perak juga turun 0,6% menjadi $36,910 per ons.
Peringatan tarif dari Trump pada hari Minggu turut mendorong aliran dana ke dolar AS.
Namun, faktor utama yang menopang dolar adalah penurunan signifikan dalam ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam dua pertemuan mendatang.
Hal ini terutama didorong oleh laporan ketenagakerjaan yang kuat pada hari Kamis, yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap tangguh meskipun ada tekanan ekonomi lainnya. Para pelaku pasar kini sebagian besar menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga pada bulan Juli, dan justru meningkatkan kemungkinan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan September, menurut CME FedWatch.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menguatkan dolar dan menekan harga logam, yang umumnya diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.
Untuk logam industri, kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange turun 0,6% menjadi $9.807,10 per ton, sementara kontrak tembaga AS turun 1% menjadi $5,0130 per pon.





